Ulasan

Catatan Ulasan
Handoko Widagdo
(Spesialis Pengembangan Sekolah -
USAID Prioritas)


Tak bisa dipungkiri bahwa membaca adalah salah satu syarat utama untuk berenang dalam dunia global. Kemampuan membaca dan mencerna bahan bacaan
adalah sebuah keterampilan yang tak bisa diabaikan jika kita ingin berhasil dalam meniti hidup di dunia yang serba tulis ini.
Kecakapan menangkap makna dari ujaran lisan memang penting. Tapi seberapa banyak ujaran lisan penting yang bisa
kita dapatkan? Bukankah hampir semua hal penting telah dikemas dalam bentuk tulisan? Bahkan kitab suci pun dikemas
dalam bentuk tulisan.


Sayangnya, sering masyarakat kita abai. Pendidikan keterampilan yang sangat penting ini. Bahkan persekolahan yang seharusnya menjadi tempat menyemai keterampilan penting ini kadang lupa akan tugasnya. Anak-anak kita di rumah dan masyarakat tak sering dikenalkan dengan
kemampuan menalar informasi-informasi yang sekarang ini menjejali setiap jengkal ruang. Keterampilan membaca tak diajarkan secara serius di ruang-ruang belajar kita. Anak-anak dipaksa menjadi penelan dan memuntahkan informasi yang sama. Otak anak-anak kita dipaksa menghafal informasi yang dijejalkan dan kemudian dilontarkan kembali dalam bentuk yang harus sama persis. Salah kata berarti salah.


Proses belajar seperti ini, yaitu proses menghafal informasi, justru akan menjerumuskan anak-anak kita kepada
penelan informasi apa saja, yang sangat berbahaya untuk hidup di abad milenium ini. Sebab banyak sekali informasi sesat yang kemasannya bagus. Jika anak-anak kita tidak sejak awal dilatih untuk mencerna, menganalisis dan memiliki
pendapatnya sendiri, maka mereka hanya akan menjadi sekelompok manusia yang dimanfaatkan oleh manusia lain demi kepentingan tertentu.


Untunglah pemerintah segera sadar akan kekurangan dunia pendidikan kita. Budaya membaca kembali didengungkan dengan keras. Bahkan Presiden pun ikut serta
berkampanye melalui mendongeng di hadapan anak-anak, mengundang para pegiat literasi, membebaskan pengiriman
buku setiap tanggal 17, dan mendorong budaya baca di sekolah dan masyarakat secara nyata. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dan Kementerian Agama serta
pemerintah di daerah juga telah serius membenahi hilangnya kesempatan membaca di sekolah. Melalui kegiatan
pembiasaan, pengadaan buku bacaan dan kegiatan motivasi telah dilaksanakan.


Buku karya Ahmad Hanapiyah (Kang Navy) ini adalah salah satu contoh nyata bahwa di tengah keterbatasan yang dimiliki sekolah/madrasah, seorang guru bisa membuat sebuah perubahan. Mengeluh tak akan ada gunanya. Memulai, meski hanya sedikit ada gunanya.


Ahmad Hanapiyah adalah guru yang beruntung. Sebab semangatnya yang menggebu untuk mengembangkan
budaya baca di sekolah, bersambut dengan kesempatan pelatihan berkualitas dari berbagai pihak. Pelatihan-pelatihan
tersebut telah mendorongnya untuk menerapkan di madrasah tempat Kang Navy mengabdi. Banyak guru, kepala
sekolah atau pihak lain yang juga memiliki semangat membara seperti halnya Kang navy. Namun, tidak semua dari
mereka mendapat kesempatan yang sama seperti Kang Navy. Itulah sebabnya Kang Navy menulis buku ini. Kang Navy
mau berbagi pengalamannya kepada para guru, kepala sekolah yang sama-sama memiliki kerinduan untuk
mengembangkan budaya baca di sekolah/madrasahnya tetapi tak berkesempatan mendapatkan pelatihan yang memadai.


Saya yakin buku yang mengungkap pengalaman penerapan hasil belajar dari pelatihan di madrasah ini sama bermutunya dengan pelatihan yang diterima oleh Kang Navy. Bahkan menurut saya buku ini lebih bermutu dari modul-modul pelatihan pengembangan budaya baca. Sebab, dalam buku ini disampaikan sebuah pengalaman nyata. Bukan sekadar teori saja.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Isi Buku Madrasah Literasi

Ini Foto Pembaca Buku Madrasah Literasi

Menjadi Narasumber Gerakan Literasi Sekolah